MATARAM – Server platform penelitian milik BIMA Kemdiktisaintek dilaporkan mengalami gangguan pada Kamis malam (9/4/2026) setelah pengumuman pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diumumkan secara resmi. Ribuan dosen, ketua LPPM, serta operator perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengeluhkan tidak bisa mengakses sistem karena server diduga tidak mampu menampung lonjakan trafik secara bersamaan.
Platform yang beralamat di bima.kemdiktisaintek.go.id tersebut merupakan sistem resmi milik Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang digunakan untuk berbagai layanan hibah, termasuk pengajuan proposal penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PKM), hingga pengumuman pendanaan program hibah bagi dosen.
Gangguan akses mulai ramai dikeluhkan sejak selesai salat Isya. Sejumlah grup WhatsApp yang beranggotakan pengelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta operator BIMA di berbagai perguruan tinggi dipenuhi keluhan karena pengguna tidak bisa login ke sistem.
Berdasarkan pantauan percakapan di beberapa grup tersebut, diskusi mengenai gangguan server berlangsung hingga sekitar pukul 00.00 WITA. Banyak dosen mengaku terus mencoba masuk ke akun masing-masing untuk melihat hasil seleksi hibah, namun halaman situs hanya menampilkan pesan error.
Ketua LPPM di salah satu perguruan tinggi swasta di Mataram, BI (35), mengatakan kondisi seperti ini sebenarnya hampir selalu terjadi setiap kali pengumuman pendanaan penelitian diumumkan melalui sistem BIMA.
“Memang ini sering terjadi saat pengumuman kelulusan penelitian dan PKM. Harusnya pihak BIMA bisa menginfokan dulu secara internal, misalnya ke LPPM atau operator kampus, baru kemudian diumumkan ke publik,” ujarnya saat ditemui Jumat pagi (10/4/2026).
Menurutnya, jika informasi awal diberikan kepada pengelola LPPM terlebih dahulu, maka pihak kampus dapat menyampaikan hasilnya kepada dosen tanpa harus membuat ribuan pengguna langsung mengakses sistem secara bersamaan.
“Kalau aksesnya dibedakan, misalnya khusus LPPM atau operator lebih dulu, mereka bisa langsung memberikan informasi ke dosen. Karena ketika semua dosen penasaran dan membuka secara bersamaan, web semakin berat dan akhirnya down,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan MN (30), seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Mataram. Ia mengaku langsung mencoba membuka akun BIMA miliknya setelah mendapat informasi bahwa hasil pendanaan sudah diumumkan.
“Iya, ketika diberitahu kalau pengumuman ada di akun BIMA masing-masing, saya langsung buka. Tapi error karena terlalu banyak dosen yang membuka secara bersamaan. Ribuan dosen akses sekaligus, akhirnya web down berjam-jam,” ungkapnya, Jumat pagi (10/4/2026).
MN mengaku sempat menunggu cukup lama hingga larut malam agar sistem kembali normal. Namun karena server belum juga bisa diakses, ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
“Setelah lama down saya ketiduran. Paginya saya lihat ada pesan WhatsApp dari LPPM yang mengabarkan kalau penelitian saya alhamdulillah didanai,” katanya.
Hal serupa juga dialami ZN (30), dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Mataram. Ia mengaku mengetahui pengumuman tersebut dari unggahan media sosial resmi BIMA, lalu segera mencoba masuk ke sistem.
“Iya semalam kesal sekali. Saya buka BIMA setelah ada pengumuman di Instagram resmi, tapi web-nya langsung error. Saya tunggu sampai jam 12 malam masih tetap tidak bisa diakses,” ujarnya, Jumat pagi (10/4/2026).
Zahra berharap ke depan mekanisme pengumuman bisa diperbaiki agar tidak menimbulkan kepadatan trafik yang berujung pada gangguan sistem.
“Kami berharap kalau sudah ada pengumuman, sebaiknya diinformasikan dulu ke masing-masing LPPM di kampus, baru diteruskan ke dosen. Jadi tidak semua orang membuka sistem secara bersamaan,” katanya.
Hingga Jumat pagi, sebagian pengguna melaporkan sistem BIMA mulai dapat diakses kembali, meskipun masih mengalami perlambatan di beberapa waktu tertentu akibat tingginya jumlah pengguna yang masuk untuk melihat hasil pendanaan hibah penelitian tahun ini.






