17 May 2026 | Suara Dalam Berita

Harga Plastik Melonjak, UMKM di Lombok Timur Terbebani Biaya Kemasan

Harga Plastik Melonjak, UMKM di Lombok Timur Terbebani Biaya Kemasan
Foto : Produk kosmetik dan kebutuhan harian milik pelaku UMKM dipajang di rak sederhana di Lombok Timur

LOMBOK TIMUR - Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan tekanan serius bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya di Lombok Timur. Para pedagang makanan, minuman, hingga produk kebutuhan sehari-hari yang bergantung pada kemasan sekali pakai kini harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah lonjakan biaya operasional.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga kantong plastik ukuran sedang mengalami kenaikan signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu per ikat, kini melonjak menjadi Rp45 ribu hingga Rp50 ribu. Lonjakan ini hampir mencapai dua kali lipat, sehingga berdampak langsung pada margin keuntungan pelaku usaha kecil.

Salah satu pelaku UMKM di Lombok Timur, N (28), yang menjual berbagai kebutuhan seperti bedak, tisu wajah, dan berbagai produk kecantikan, mengaku mulai merasakan dampak dari kenaikan tersebut. Ia mengatakan biaya tambahan untuk kemasan menjadi beban tersendiri dalam menjalankan usahanya.

“Sekarang harga plastik sudah terasa mahal, tapi saya belum berani menaikkan harga, yang penting laku aja sudah sukur,” ujarnya saat ditemui, Selasa (15/4/2026).

Menurutnya, menaikkan harga produk bukanlah pilihan mudah, mengingat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil. Ia khawatir jika harga dinaikkan, pelanggan justru beralih ke penjual lain yang menawarkan harga lebih murah.

Kondisi serupa juga dirasakan di Kota Mataram. Kenaikan harga plastik turut berdampak pada pelaku usaha minuman keliling, khususnya pedagang kopi dorong yang mengandalkan gelas plastik sebagai kemasan utama. Salah satu konsumen, Zum (30), mengungkapkan adanya kenaikan harga pada salah satu kopi keliling langganannya sejak awal April 2026.

“Iya semenjak tanggal 6 itu harga kopi naik jadi 12 ribu yang awalnya 10 ribu. Ya kita bersama teman-teman di kantor minum kopi setiap hari,” katanya.

Kenaikan harga tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh meningkatnya biaya kemasan yang digunakan pedagang. Hal ini menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga mulai menjalar ke konsumen akhir.

Sejumlah pelaku UMKM kini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menanggung kenaikan biaya produksi, sementara di sisi lain mereka dituntut untuk menjaga harga tetap terjangkau agar tidak kehilangan pelanggan. Strategi bertahan seperti mengurangi penggunaan plastik, mencari pemasok alternatif, hingga memperkecil margin keuntungan mulai dilakukan.

Pengamat ekonomi lokal menilai, kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Intervensi dalam bentuk stabilisasi harga bahan baku atau dukungan terhadap penggunaan kemasan ramah lingkungan dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.

Jika tren kenaikan harga plastik terus berlanjut, bukan tidak mungkin lebih banyak pelaku UMKM yang terpaksa menaikkan harga jual produk mereka. Pada akhirnya, situasi ini berpotensi memicu kenaikan harga di tingkat konsumen serta mempengaruhi daya beli masyarakat secara luas.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku UMKM hanya bisa berharap adanya stabilitas harga dalam waktu dekat agar usaha mereka tetap berjalan dan mampu bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

Link berhasil disalin!