LOKBOK TIMUR – Bagi masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, kematian bukan sekadar akhir dari perjalanan hidup, melainkan babak baru yang diiringi dengan deretan prosesi adat dan ritual doa yang kental. Salah satu tradisi yang hingga kini masih terjaga kelestariannya adalah ritual zikir kematian, mulai dari Nelung hingga Nyiwaq.
Di Dusun Menuntut, Desa Rensing, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, tradisi ini tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus kiriman doa bagi anggota keluarga yang telah berpulang. Selama sembilan hari berturut-turut, rumah duka tidak pernah sepi dari lantunan zikir dan masyarakat yang berdatangan.
Makna Nelung dan Sajian Pesor
Secara harfiah, Nelung berasal dari kata "telu" yang berarti tiga. Ini merupakan peringatan tiga hari meninggalnya seseorang. Dalam struktur adat Sasak, hari ketiga dianggap sebagai salah satu fase penting di mana keluarga mulai memberikan sedekah makanan yang lebih berat kepada para pelayat dan jemaah zikir.
Uyun (28), salah seorang warga Dusun Menuntut, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara menu sajian pada hari-hari biasa dengan saat ritual Nelung berlangsung.
"Kalau di sini (Dusun Menuntut), hari pertama dan kedua setelah kematian, kita biasanya menggunakan jajanan atau snack saja untuk para jamaah zikir. Namun, saat memasuki hari ketiga atau Nelung, sajiannya berubah menjadi lebih berat," ujar Uyun saat ditemui di lokasi, Jumat (03/04).
Menu wajib yang disuguhkan saat Nelung adalah Pesor. Dalam bahasa Indonesia, Pesor menyerupai lontong yang dibungkus daun pisang, namun memiliki tekstur dan cara penyajian yang khas.
"Pesor ini biasanya dicampur dengan serbuk. Serbuk itu kalau dalam bahasa umum seperti urap, ada parutan kelapa dengan bumbu khas Lombok. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun sebagai menu sedekah saat Nelung," tambahnya.
Mituq: Peringatan Tujuh Hari
Setelah melewati hari ketiga, zikir terus berlanjut hingga hari ketujuh yang disebut dengan Mituq (tujuh). Pola penyajian konsumsi pun kembali mengikuti alur yang serupa. Pada hari keempat hingga keenam, keluarga kembali menyuguhkan makanan ringan atau jajanan pasar kepada para jemaah.
Barulah pada malam ketujuh atau Mituq, keluarga kembali menyiapkan hidangan utama berupa nasi atau pesor lengkap dengan lauk-pauknya. Bagi masyarakat setempat, konsistensi selama tujuh hari ini adalah bentuk ketulusan keluarga dalam mengantarkan kepergian almarhum dengan iringan doa masyarakat sekitar.
Puncak Ritual pada Malam Nyiwaq
Puncak dari seluruh rangkaian prosesi doa ini terjadi pada hari kesembilan, atau yang dikenal dengan istilah Nyiwaq. Dalam tradisi Lombok, Nyiwaq seringkali dianggap sebagai "pesta" doa dengan skala yang lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Pada momen ini, pihak keluarga yang ditinggalkan biasanya menggelar acara syukuran besar-besaran. Tak jarang, bagi keluarga yang mampu, mereka akan menyembelih hewan ternak seperti sapi atau kerbau sebagai bentuk sedekah jariyah atas nama almarhum.
"Nyiwaq itu puncaknya. Biasanya acaranya lebih besar, ada yang sampai memotong sapi atau kerbau. Seluruh warga dusun dan kerabat dari jauh diundang untuk berzikir bersama sebagai penutup rangkaian doa sembilan hari tersebut," terang Uyun.
Nilai Sosial dan Gotong Royong
Selain dimensi religius, tradisi Nelung hingga Nyiwaq di Sakra Barat ini juga memperlihatkan kuatnya ikatan sosial dan gotong royong antarwarga. Tetangga biasanya akan datang membantu (nyumbang) baik dalam bentuk tenaga maupun bahan makanan untuk meringankan beban keluarga yang berduka.
Meskipun zaman terus berubah, keberlangsungan tradisi ini di Desa Rensing menunjukkan bahwa masyarakat Sasak tetap memegang teguh warisan leluhur. Doa yang dipanjatkan selama sembilan hari penuh diharapkan menjadi penerang jalan bagi almarhum, sekaligus menjadi penguat batin bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kata Kunci (SEO): Tradisi Nelung Lombok, Nyiwaq Sasak, Adat Kematian Lombok, Pesor Serbuk, Zikir Sembilan Hari, Budaya Sakra Barat, Desa Rensing.