17 May 2026 | Suara Dalam Berita

Tradisi “Perpisahan” Calon Jemaah Haji di Lombok: Gotong Royong Warga Hidupkan Nilai Kebersamaan

Tradisi “Perpisahan” Calon Jemaah Haji di Lombok: Gotong Royong Warga Hidupkan Nilai Kebersamaan
Foto : Suasana gotong royong warga pada malam hari saat menyiapkan bahan makanan untuk acara perpisahan calon jemaah haji. Terlihat sejumlah warga memotong batang pisang (ares) dan mengupas kelapa, sementara lainnya berkumpul dan bekerja bersama dalam nua

LOMBOK TIMUR – Suasana kebersamaan tampak begitu kuat di Dusun Menuntut, Desa Rensing, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, pada Sabtu malam (11/4/2026). Warga setempat menggelar kegiatan gotong royong sebagai bagian dari tradisi “perpisahan”, yakni rangkaian acara begawe bagi warga yang akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 20.30 WITA, puluhan warga dari berbagai kalangan terlihat berkumpul di halaman rumah salah satu calon jemaah haji. Mulai dari pemuda, orang dewasa hingga orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, terlibat aktif dalam berbagai pekerjaan persiapan acara.

Tradisi “perpisahan” sendiri merupakan bagian dari budaya lokal masyarakat Lombok yang masih terjaga hingga kini. Dalam bahasa setempat, begawe merujuk pada kegiatan atau hajatan yang melibatkan partisipasi warga, baik dalam momen keberangkatan haji, kematian, akikah, maupun acara sosial lainnya.

Malam sebelum acara inti perpisahan, warga secara sukarela datang untuk membantu berbagai keperluan dapur dan logistik. Mereka bekerja bersama dalam suasana santai, penuh canda, namun tetap terarah. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari gecok ares (memotong batang pisang menjadi bagian kecil), lokeq nyiur (mengupas kelapa), hingga menyiapkan bahan makanan lainnya.

Di sudut halaman, terlihat beberapa warga duduk melingkar sambil memotong bahan masakan. Sementara di sisi lain, tumpukan batang pisang dan kelapa tampak menggunung, menandakan besarnya skala persiapan acara. Tidak sedikit pula ibu-ibu yang sibuk mencuci, mengolah, dan menyiapkan bahan untuk konsumsi bersama.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar persiapan teknis, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Tawa dan obrolan ringan terdengar di sela-sela pekerjaan, mencerminkan tingginya semangat kebersamaan yang masih terjaga di tengah masyarakat.

Salah satu warga, M (55), yang ditemui pada Sabtu malam itu menyampaikan bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat setempat.

“Lamun araq lalo jok haji, selapukte saling bantu, ye wah jari kebiasaan leman laeq, saling bantu epen bale, dait endah ye ntanye silaturrahmi,” ungkapnya dalam bahasa Sasak Lombok, sabtu malam (11/04).

Ia menjelaskan, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut berarti, “Kalau ada warga yang mau berangkat haji, semua ikut bantu. Ini sudah jadi kebiasaan dari dulu. Selain meringankan beban tuan rumah, juga mempererat silaturahmi.”

Menurutnya, kebersamaan seperti ini menjadi kekuatan utama masyarakat desa dalam menjaga nilai sosial dan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Selain itu, kegiatan gotong royong ini juga mencerminkan nilai solidaritas yang kuat, di mana tidak ada batasan status sosial dalam keterlibatan warga. Semua bekerja bersama dengan tujuan yang sama, yakni menyukseskan acara perpisahan calon jemaah haji.

Tradisi seperti ini dinilai menjadi salah satu kekayaan budaya lokal yang patut dilestarikan. Di tengah arus modernisasi, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Dusun Menuntut menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai kebersamaan tetap hidup dan relevan.

Acara perpisahan sendiri rencananya akan digelar pada keesokan harinya, sebagai bentuk doa dan harapan dari masyarakat bagi warga yang akan berangkat ke Tanah Suci. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya melepas keberangkatan, tetapi juga menunjukkan dukungan moral dan spiritual secara kolektif.

Kehangatan yang tercipta dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran kuat bahwa budaya gotong royong masih menjadi fondasi utama dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Lombok Timur.

Link berhasil disalin!