24 May 2026 | Suara Dalam Berita

Nyongkolan, Tradisi Pernikahan Suku Sasak di Lombok yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Nyongkolan, Tradisi Pernikahan Suku Sasak di Lombok yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi
Foto : suasana nyongkolan di karang bayan kec. Lingsar Kabupaten Lombok Barat

LOMBOK BARAT – Suara tabuhan Gendang Beleq, gamelan dan alunan musik Cilokaq kembali memecah keheningan di berbagai sudut Pulau Lombok. Tradisi Nyongkolan, sebuah prosesi adat pasca-akad nikah yang menjadi identitas masyarakat Sasak, hingga kini masih terjaga kelestariannya mulai dari wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, hingga Lombok Timur.

Bagi masyarakat setempat, Nyongkolan bukan sekadar iring-iringan pengantin biasa. Ritual ini merupakan bentuk pengumuman resmi (pemberitahuan) sekaligus permohonan restu kepada masyarakat luas bahwa sepasang insan telah sah menjadi suami istri menurut agama dan adat istiadat. Tanpa Nyongkolan, sebuah prosesi pernikahan di Lombok terasa belum lengkap secara sosial meski sudah sah di mata hukum dan agama.

Arak-arakan Busana Adat dan Filosofi Penghormatan

Secara teknis, Nyongkolan adalah kunjungan resmi keluarga besar mempelai laki-laki ke kediaman mempelai wanita. Dalam prosesi ini, seluruh rombongan diwajibkan mengenakan busana khas Sasak sebagai bentuk pelestarian identitas. Para pria tampak gagah dengan Sapuk (ikat kepala) dan kain Songket atau Lempot, lengkap dengan keris yang terselip sebagai simbol ksatria. Sementara itu, kaum wanita tampil anggun dengan balutan Kebaya Sasak atau Baju Lambung yang dipadukan dengan kain tenun warna-warni.

Jarak antara rumah kedua mempelai sangat menentukan bagaimana prosesi ini berlangsung. Di banyak desa di Lombok, jika jarak rumah kedua pengantin berdekatan, rombongan akan memilih untuk berjalan kaki sebagai simbol kebersamaan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Namun, jika jaraknya cukup jauh, warga akan beriringan menggunakan berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil pribadi hingga kendaraan bak terbuka yang dihias, diiringi antusiasme luar biasa dari anak-anak hingga orang tua.

Nuansa Magis Gendang Beleq dan Gamelan

Salah satu elemen yang tak boleh absen dalam Nyongkolan adalah kehadiran musik pengiring yang kolosal. Masyarakat biasanya menggunakan Gendang Beleq sebagai instrumen utama. Dentuman gendang yang menggelegar menciptakan suasana magis sekaligus meriah. Tak jarang, iring-iringan ini juga dilengkapi dengan dentingan Gamelan khas Sasak yang ritmis, serta alunan Cilokaq yang mendayu-dayu untuk menambah kekentalan nuansa tradisional selama perjalanan.

Kombinasi antara tabuhan Gendang Beleq yang gagah dan harmoni Gamelan mengiringi langkah rapi rombongan menuju rumah pihak perempuan. Keriuhan ini seringkali menjadi tontonan menarik bagi warga sekitar maupun pengguna jalan. Meski terkadang menyebabkan perlambatan arus lalu lintas, masyarakat Lombok justru melihatnya sebagai bentuk solidaritas sosial yang tinggi dalam merayakan kebahagiaan sesama warga.

Salah satu prosesi Nyongkolan terpantau berlangsung meriah di Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, pada Minggu (05/04/2026) menggunakan gamelan dan cilokak Di wilayah ini, tradisi berjalan kaki tetap dipertahankan karena kebetulan rumah kedua mempelai masih berada dalam satu desa. Barisan rapi rombongan memenuhi jalan desa sejak siang hari dengan penuh sukacita.

HR (30), pengantin pria yang ditemui sehari setelah prosesi, menceritakan pengalamannya mengenakan busana adat lengkap di tengah kerumunan warga. Baginya, momen tersebut adalah salah satu fase paling berkesan dalam hidupnya.

"Iya, karena jarak rumah saya dan istri dekat, makanya kami langsung jalan kaki saja kemarin. Tetap menggunakan iringan Gamelan dan cilokaq supaya tradisinya terasa," tutur HR pada Senin (06/04).

Meski tampak tenang saat prosesi berlangsung, HR mengaku sempat merasakan demam panggung yang luar biasa saat menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata.

"Iya, saya merasa sangat senang, tapi sejujurnya ada rasa agak grogi juga karena ditonton banyak orang. Tapi setelah jalan, groginya perlahan hilang. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar dan khidmat," ungkapnya dengan raut wajah lega.

Menjaga Warisan di Era Modern

Meskipun zaman terus berubah ke arah modern, tradisi Nyongkolan terbukti mampu bertahan sebagai perekat sosial yang ampuh. Di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Timur, frekuensi Nyongkolan bahkan tetap tinggi di musim-musim pernikahan, seringkali mengisi jalanan utama pada hari Sabtu dan Minggu.

Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Lombok sangat menghargai tata krama, etika bertamu, dan pentingnya restu keluarga besar. Melalui Nyongkolan, keluarga laki-laki menunjukkan itikad baik dan rasa hormat yang mendalam kepada keluarga perempuan, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan antar-desa di Pulau Seribu Masjid ini.

Link berhasil disalin!