LOMBOK TIMUR – Penunjukkan Desa Kalijaga Timur sebagai pemilik situs Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) abad ke-17 membuka peluang baru bagi pengembangan desa. Tak sekadar menjaga batu nisan kuno, wilayah ini kini diproyeksikan menjadi pusat edukasi sejarah perjuangan Islam di Pulau Lombok melalui konsep wisata religi yang tertata.
Visi besar ini diperkuat dengan turunnya tim ahli dari dua perguruan tinggi ternama, yakni Universitas Hamzanwadi dan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, untuk membedah potensi situs tersebut dari kacamata akademis dan kepariwisataan pada Minggu (19/04/2026).
Kesaksian Warga dan Bukti Fisik di Lapangan
Keberadaan makam-makam kuno ini memang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Rendi (35), salah seorang warga yang rumahnya terletak sangat dekat dengan situs tersebut, memberikan kesaksian mengenai perhatian para ahli yang terus mengalir ke desanya.
"Sudah beberapa kali tim arkeolog datang ke tempat ini untuk melakukan penelitian. Lokasi makam ini memang tidak jauh dari rumah saya," ujar Rendi di lokasi, Minggu (19/4).
Ia menambahkan bahwa secara visual, makam-makam tersebut memang memiliki keunikan yang mencolok dibandingkan pemakaman umum lainnya. "Makamnya ini besar-besar nisannya, terlihat sekali kalau ini peninggalan orang-orang terdahulu yang punya peran penting," tambahnya.
Sinergi Akademisi dan Marwah Sejarah
Dalam peninjauan tersebut, hadir pula Dr. Juju, salah satu dosen senior dari Poltekpar Lombok. Kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah desa tidak berjalan sendiri dalam mengelola aset berharga ini. Kepala Desa Kalijaga Timur, Hiswaton, menyatakan bahwa kolaborasi dengan Dr. Juju bertujuan untuk mengemas narasi sejarah yang ada menjadi daya tarik wisata yang bermartabat.
"Kebetulan hari ini kami bersama Doktor Juju. Beliau akan membantu kami menjadikan potensi ini sebagai wisata religi. Ini penting untuk menambah khazanah sejarah peradaban Islam, khususnya di Pulau Lombok," jelas Hiswaton.
Kalijaga sebagai Wilayah Perjuangan Islam
Secara historis, wilayah Kalijaga dikenal memiliki akar spiritual yang kuat. Hiswaton menekankan bahwa penemuan ini memiliki makna ideologis yang dalam. Ia berharap pemerintah daerah dapat terus mengawal situs ini agar identitas wilayah tersebut sebagai pusat perjuangan Islam dapat diketahui oleh generasi berikutnya.
"Kami mengetahui potensi besar Kalijaga sebagai salah satu wilayah perjuangan Islam. Harapan kami, penetapan cagar budaya ini menjadi sarana agar anak cucu kita nanti tahu bahwa di sini pernah menjadi titik penting syiar Islam," tegasnya.
Pelestarian Berbasis Masyarakat
Salah satu poin unik dari situs ini adalah lokasinya yang berdampingan langsung dengan pemukiman warga. Hal ini menuntut adanya model pelestarian berbasis komunitas (community-based tourism). Kehadiran tim dosen sejarah Universitas Hamzanwadi diharapkan mampu memberikan data otentik bagi warga agar mereka bisa menjadi penjaga sekaligus penyampai sejarah di kampungnya sendiri.
Dengan dukungan akademisi dan payung hukum yang sudah ada melalui SK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kalijaga Timur kini bersiap menyambut era baru sebagai pusat studi sejarah dan wisata religi yang akan membawa nama besar Lombok ke panggung sejarah Nusantara.