MATARAM – Kenaikan harga bahan baku, khususnya plastik, mulai dirasakan dampaknya oleh pedagang kecil di Kota Mataram. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Kamis (16/4) pagi sekitar pukul 08.00 WITA, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga merambah ke sejumlah kebutuhan lain seperti minyak goreng, air mineral, hingga bahan pangan seperti ayam.
Pantauan di kawasan Kekalik, tepatnya di sekitar lingkungan kampus Universitas Teknologi Mataram, menunjukkan sejumlah warung kecil mulai merasakan tekanan biaya operasional. Salah satu yang terdampak adalah Warung Penasaran, yang sehari-hari melayani kebutuhan mahasiswa di sekitar kampus.
Pemilik Warung mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir di semua lini kebutuhan usaha. Ia menyebut plastik sebagai salah satu komponen yang paling terasa dampaknya karena digunakan setiap hari untuk membungkus makanan dan minuman.
“Iya pak, semua pada naik. Mulai dari plastik, ayam, air mineral, minyak, dan lainnya. Kami jadi serba salah,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (16/4).
Ia mengaku belum berani menaikkan harga jual kepada konsumen, mengingat mayoritas pelanggan di sekitar lokasi adalah mahasiswa. Menurutnya, kenaikan harga bisa berdampak langsung pada penurunan jumlah pembeli.
“Mau dinaikkan harga juga tidak enak. Di sini kebanyakan pembeli mahasiswa. Jadi kami yang harus putar otak, capek juga mikirnya,” tambahnya.
Pantauan di lokasi yang sama juga menunjukkan kondisi serupa di warung lain yang dikenal dengan sebutan Warung Biru oleh kalangan mahasiswa. Pemilik warung tersebut menegaskan bahwa kenaikan harga plastik sangat berdampak pada usahanya, terutama karena kebutuhan kemasan menjadi bagian penting dalam aktivitas jual beli sehari-hari.
“Iya, harga plastik naik. Sangat terasa bagi kami yang jualan makanan dan minuman,” ujarnya singkat sambil melayani pembeli.
Para pedagang kecil kini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menanggung kenaikan harga bahan baku, sementara di sisi lain mereka dituntut menjaga harga tetap terjangkau agar tidak kehilangan pelanggan.
Penggunaan plastik sebagai kemasan utama masih menjadi pilihan karena praktis dan mudah didapat. Namun, ketika harga plastik mengalami kenaikan, biaya operasional otomatis ikut meningkat. Hal ini memaksa pedagang untuk mencari cara agar tetap bertahan, mulai dari mengurangi penggunaan kemasan hingga menekan biaya lain.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pedagang kecil akan mulai menaikkan harga secara bertahap. Dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh konsumen, terutama di kawasan dengan dominasi pembeli mahasiswa.
Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok dan bahan pendukung usaha. Mereka menginginkan kondisi kembali normal agar aktivitas jual beli bisa berjalan seperti biasa.
“Harapan kami sederhana, semoga harga bisa kembali stabil seperti biasa” ungkap salah satu pedagang.
Kenaikan harga plastik yang kini dirasakan langsung oleh pedagang kecil menjadi gambaran nyata tekanan ekonomi di tingkat bawah yang masih terus berlangsung dan perlu mendapat perhatian serius.