LOMBOK TIMUR – Ratusan warga Dusun Menuntut, Desa Rensing, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, tampak antusias mengikuti tradisi bekeluhu, Sabtu malam (4/4/2026). Suasana khas malam hari di permukiman warga terlihat hidup dengan kehadiran anak-anak, remaja, hingga orang tua yang duduk bersaf membacakan zikir untuk keluarga yang baru saja meninggal dunia.
Bekeluhu merupakan tradisi zikir yang telah mengakar kuat di sebagian wilayah Lombok. Ritual ini dilaksanakan selama sembilan hari berturut-turut setelah seseorang meninggal dunia. Menariknya, setiap fase memiliki nama tersendiri. Hari ketiga disebut nelung, hari ketujuh mituq, dan puncak acara pada hari kesembilan dinamakan nyiwaq. Secara keseluruhan, rangkaian ini dikenal dengan sebutan bekeluhu.
Acara yang dimulai selepas shalat Isya ini dipimpin langsung oleh tetua kampung atau ustad setempat. Pembacaan zikir dilakukan secara berjamaah, serupa dengan praktik zikir pada umumnya. Yang membedakan, tradisi ini dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat tanpa memandang usia. Dari anak-anak kecil hingga orang tua, semua turut serta mendoakan almarhum.
Salah satu warga di Dusun Menuntut yang enggan disebutkan namanya mengatakan tradisi Bekeluhu sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat.
“Dari kecil acara Bekeluhu ini sudah ada. Kami selalu antusias karena setelahnya biasanya dibagikan jajan. Ini yang membuat anak-anak semakin semangat,” ujarnya.
Dia juga menambahkan, “Paling banyak anak2, dan ini juga bentuk dari kebersamaan warga untuk membacakan zikir sebagai pahala buat keluarga yang sudah meninggal”.
"Bekeluhu ini dipimpin oleh ustad atau tetua, pihak keluarga sebelum memulai acara bekeluhu mengeluarkan kopi, tembakau untuk merokok atau rokok yang sudah jadi. Katanya," ungkapnya.
“Bekeluhu ini mulai dari selesai isya sampai selesai, dihadiri ratusan orang. Setelah selesai yang punya acara membagukan jajan snack dll. Biasanya bekeluhu dilakukan untuk keluarga yang meninggal dunia sampai sembilan hari”, pungkasnya.
Sementara itu, salah satu tetua di Dusun Menuntut yang enggan disebutkan namanya turut memberikan pandangannya terkait kelestarian tradisi ini. "Iya memang ini selalu diadakan oleh warga atau keluarga yang sudah meninggal, semoga tradisi ini selalu terjaga, sambil kita kenalkan ke anak2 ini tentang tradisi ini. Katanya."
Pernyataan sang tetua ini menegaskan komitmen masyarakat lokal untuk terus melestarikan bekeluhu sebagai warisan budaya dan religius. Menurutnya, melibatkan anak-anak sejak dini merupakan strategi efektif agar nilai-nilai luhur tradisi ini tidak tergerus zaman.
Kehadiran ratusan warga dalam setiap gelaran bekeluhu menunjukkan tingginya solidaritas sosial masyarakat Dusun Menuntut. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mendoakan almarhum, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
Para orang tua pun memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan nilai-nilai kepedulian sosial dan keagamaan kepada anak-anak mereka. Dengan mengikuti bekeluhu, anak-anak belajar tentang pentingnya mendoakan sesama dan menjaga hubungan baik dengan tetangga.
Hingga kini, bekeluhu tetap lestari di tengah arus modernisasi. Antusiasme warga yang tinggi dari generasi ke generasi menjadi bukti bahwa tradisi yang sarat nilai religius dan kearifan lokal ini masih relevan dengan kehidupan masyarakat Lombok Timur. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan bekeluhu dapat terus menjadi identitas budaya yang membanggakan dan sarana penguatan spiritualitas masyarakat setempat.