MATARAM – Geliat pergerakan orang dan barang di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren penurunan pada awal tahun ini. Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, data terbaru per Februari 2026 menunjukkan adanya koreksi cukup tajam pada hampir seluruh lini moda transportasi, baik udara maupun laut.
Pantauan pada Rabu, 15 April 2026, data ini menggambarkan kondisi transisi pasca-libur awal tahun yang biasanya memang mengalami normalisasi. Namun, angka penurunan yang mencapai dua digit di beberapa sektor menjadi perhatian serius bagi para pelaku ekonomi dan pengguna jasa transportasi di Bumi Gora.
Penumpang Pesawat Domestik Merosot Tajam
Sektor angkutan udara mencatatkan penurunan yang cukup signifikan. Jumlah penumpang domestik yang berangkat dari NTB pada Februari 2026 tercatat sebanyak 163,83 ribu orang. Angka ini turun sebesar 14,23 persen dibandingkan bulan Januari 2026. Tren serupa juga terlihat pada penumpang internasional yang turun 5,03 persen dengan total 25,64 ribu orang. Penurunan ini disinyalir dipengaruhi oleh berakhirnya masa libur musiman dan fluktuasi harga tiket pesawat yang masih menjadi keluhan utama masyarakat hingga saat ini.
Arus Logistik Laut Melambat
Kondisi di sektor angkutan laut pun tidak jauh berbeda. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan-pelabuhan NTB mengalami penyusutan. Jumlah barang yang dibongkar atau logistik masuk turun drastis sebesar 27,41 persen menjadi 215,96 ribu ton. Sementara itu, barang yang dimuat atau logistik keluar juga terkoreksi 15,73 persen di angka 62,31 ribu ton.
Penurunan aktivitas pelabuhan ini juga berdampak pada jumlah penumpang kapal laut. Penumpang yang datang tercatat turun tipis 2,31 persen, sedangkan penumpang yang berangkat merosot hingga 17,12 persen dengan total 45,41 ribu orang.
Suara Warga: Harapan akan Armada Kapal dan Tiket Murah
Di tengah rilis data yang menunjukkan penurunan angka tersebut, kondisi di lapangan tetap menyisakan persoalan klasik bagi para pengguna jasa. Seorang warga asal Labuapi, Lombok Barat, yang kerap bepergian lintas pulau, mengungkapkan kegelisahannya terkait layanan transportasi yang ada. Ia menyoroti ketimpangan antara jumlah armada kapal dengan lonjakan penumpang pada momen-momen tertentu yang sering kali mengakibatkan kemacetan parah.
"Data mungkin menunjukkan penurunan sekarang, tapi kenyataannya setiap memasuki hari raya atau hari besar, kami masih sering terjebak antrean yang membludak. Harapannya, pemerintah dan operator bisa menambah jumlah armada kapal laut, terutama yang melayani rute menuju Sumbawa maupun Bali," ujarnya, rabu (15/04).
Selain soal kuantitas armada, ia juga menaruh perhatian pada aspek ketertiban di pintu-pintu masuk utama NTB. Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur dan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat diharapkan bisa memiliki sistem manajemen yang lebih teratur agar tidak terjadi penumpukan kendaraan yang semrawut.
Keluhan Harga Tiket Pesawat
Sektor udara pun tak lepas dari sorotan. Bagi warga Labuapi ini, bepergian menggunakan pesawat masih dianggap sebagai beban biaya yang cukup berat bagi kantong masyarakat lokal. Ia berharap ada perhatian khusus mengenai mahalnya harga tiket yang selama ini terjadi.
"Untuk tiket pesawat, jujur kami berharap harganya bisa lebih ditekan atau ada kebijakan yang membuat harganya lebih murah. Selama ini kalau mau bepergian keluar daerah harganya selalu tinggi sekali. Ini yang membuat orang berpikir dua kali untuk terbang," tambahnya.
Harapan warga ini menjadi kontras dengan data BPS yang menunjukkan penurunan jumlah penumpang. Ada indikasi bahwa rendahnya angka penumpang bukan semata-mata karena berkurangnya minat bepergian, melainkan daya beli masyarakat yang terbentur oleh biaya transportasi yang kurang terjangkau. Kini, publik menanti kebijakan yang mampu menyeimbangkan kenyamanan pelayanan dengan harga yang lebih bersahabat.