BREAKING NEWS
04 April 2026 Suara Dalam Berita

Musim Tanam Tiba, Petani di Pringgarata Lombok Tengah Mulai Proses Lowong Padi

Musim Tanam Tiba, Petani di Pringgarata Lombok Tengah Mulai Proses Lowong Padi
Foto : suasana lowong di desa sintung lombok tengah

LOMBOK TENGAH – Hamparan persawahan di Dusun Karang Jangkong, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, mulai bersolek hijau. Masuknya musim tanam disambut antusias oleh warga setempat dengan memulai proses lowong, atau aktivitas menanam padi dalam bahasa Sasak.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (4/4/2026), sejumlah warga tampak sibuk di tengah sawah yang telah tergenang air. Proses lowong ini merupakan tahapan lanjutan setelah melewati masa penyemaian bibit (ampar) dan pengolahan lahan yang cukup memakan waktu. Kondisi ketersediaan air yang melimpah di wilayah ini menjadi faktor pendukung utama lancarnya masa tanam tahun ini.

Filosofi Tanam Mundur. Menjaga Kualitas Tanaman
Salah satu hal yang menarik dari aktivitas lowong adalah teknik menanamnya yang dilakukan dengan berjalan mundur. Hal ini bukan tanpa alasan teknis yang kuat. Zum (27), seorang petani muda asal Desa Sintung, menjelaskan bahwa teknik ini sangat krusial untuk menjaga bibit padi yang baru saja ditancapkan ke lumpur agar tidak terinjak.

"Ya ditanam mundur, biar tidak merusak padi yang sudah ditanam. Sepertinya model tanam mundur dipakai di semua daerah, tidak hanya di Lombok," ujar Zum saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di sawah.

Menurutnya, berjalan mundur memungkinkan petani melihat presisi barisan padi sekaligus memastikan kaki tidak menginjak bibit yang sudah tertanam. Hal ini memastikan pertumbuhan padi nantinya akan rapi dan memudahkan dalam proses pemeliharaan.

Detail Biaya dan Varietas Inpari 32
Dalam proses penanaman kali ini, Zum memilih varietas Inpari 32 yang dikenal memiliki ketahanan yang baik. Untuk lahan seluas kurang lebih 20 are miliknya, ia mengerahkan tenaga bantuan sebanyak tujuh orang agar pengerjaan lebih efektif dan cepat selesai sebelum matahari terlalu terik.

"Upahnya 35 ribu per orang, biasanya pengerjaan dari jam 6 sampai jam 9 pagi tergantung luas lahan. Karena lahan saya sekitar 20 are, jadi ada tujuh orang yang kita pakai untuk proses lowong ini," jelasnya secara detail mengenai biaya operasional di tingkat petani.

Pasokan Air Melimpah dan Kemandirian Bibit
Kecamatan Pringgarata dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Lombok Tengah karena didukung oleh sistem irigasi yang stabil. Bagi petani di Karang Jangkong, masalah air jarang menjadi kendala utama.

"Alhamdulillah masalah air tercukupi, kebetulan di daerah ini airnya mudah didapat," ungkap Zum dengan nada syukur. Terkait modal awal, ia mengombinasikan bibit toko dengan bibit mandiri. Sebagian bibit ia beli untuk memastikan kualitas, sementara sebagian lagi diambil dari sisa panen tahun lalu guna menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga kebutuhan tani.

Regenerasi Petani di Tengah Tradisi
Meskipun aktivitas di sawah masih didominasi oleh generasi tua, kehadiran sosok muda seperti Zum memberikan harapan bagi regenerasi sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat. Di Desa Sintung, pertanian masih menjadi urat nadi ekonomi utama yang mempertemukan lintas generasi.

"Biasa yang ikut ini yang sudah tua, kadang ada juga yang masih bajang (muda). Karena sebagian besar mata pencaharian kita di sini adalah petani," tambahnya. Istilah bajang sendiri merujuk pada pemuda dalam bahasa lokal Lombok.

Harapan Melimpah di Musim Tanam
Menutup perbincangan, Zum menyampaikan harapannya dalam bahasa Sasak yang kental dengan makna ketulusan seorang petani. "Luek maukte gabah kance solah hasilne," ucapnya, yang berarti harapan agar hasil panen kali ini melimpah dengan kualitas gabah yang sangat baik. Masyarakat Desa Sintung berharap stabilitas harga gabah tetap terjaga hingga masa panen tiba, sehingga kesejahteraan petani di Lombok Tengah terus meningkat.

Berita Terkait

Link berhasil disalin!
Link berhasil disalin!