MATARAM – Hamparan sawah di Dusun Karang Jangkong, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, kini mulai dipenuhi aktivitas petani. Seiring dengan masuknya musim tanam, para petani setempat mulai melakukan proses pengolahan lahan yang dalam bahasa Sasak dikenal dengan sebutan Nenggale.
Nenggale merupakan tahap krusial dalam siklus pertanian di Pulau Lombok. Proses ini dilakukan untuk membalikkan tanah sawah agar gembur dan siap ditanami bibit padi baru. Pantauan di lapangan menunjukkan para petani sibuk mengoperasikan mesin traktor di tengah sawah yang tergenang air, menciptakan pemandangan khas pedesaan yang produktif.
Biaya Nenggale: Rp18 Ribu per Are
Bagi para pemilik lahan, proses Nenggale kini umumnya menggunakan jasa mesin traktor untuk efisiensi waktu. Zumratul (27), salah seorang warga sekaligus petani muda di Dusun Karang Jangkong, mengungkapkan bahwa biaya jasa Nenggale saat ini dipatok berdasarkan luas lahan.
"Biayanya 18 ribu rupiah dikali luas lahan yang di-tenggala (per are). Jadi tinggal dihitung saja berapa luas sawahnya, nanti ketemu total biayanya," ujar Zumratul saat ditemui di lokasi, Jumat (03/04/2026).
Meski biaya tersebut tergolong standar, tantangan utama bagi petani bukanlah soal harga, melainkan antrean. Karena musim tanam terjadi secara serempak, ketersediaan traktor menjadi rebutan.
"Untuk dapat giliran nenggale, kita harus sabar menunggu. Karena banyak warga lain yang juga mau nenggale di waktu yang bersamaan. Jadi sistemnya siapa cepat dia dapat atau sesuai jadwal yang sudah disepakati dengan operator traktor," tambahnya.
Ketersediaan Air yang Cukup
Proses Nenggale tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Zumratul, kondisi tanah harus dalam keadaan sangat basah atau tergenang air agar mata traktor bisa bekerja maksimal membalikkan tanah.
"Perairan harus banyak dulu, baru bisa nenggale. Kalau tanahnya keras atau airnya kurang, mesin traktor akan kesulitan dan hasilnya tidak akan bagus untuk pertumbuhan padi nanti," jelasnya. Ketergantungan pada debit air ini membuat para petani di Desa Sintung sangat memperhatikan jadwal pembagian air irigasi sebelum memutuskan untuk memanggil jasa traktor.
Evolusi Tradisi: Dari Sapi Karapan ke Mesin Traktor
Ada pergeseran budaya yang menarik dalam aktivitas pertanian di Lombok Tengah. Dahulu, sebelum teknologi mesin traktor masuk ke desa-desa, orang tua zaman dulu menggunakan Sapi Karapan untuk membajak sawah.
Penggunaan sapi memakan waktu lebih lama dan tenaga ekstra, namun memiliki nilai historis dan kedekatan emosional bagi petani Sasak. Kini, seiring tuntutan zaman yang serba cepat, mesin traktor telah menggantikan peran sapi secara masif, meski istilah "Nenggale" tetap abadi digunakan.
Tahap Selanjutnya 'Lowong' atau Menanam Padi
Setelah proses Nenggale selesai, lahan tidak langsung ditanami. Tanah yang sudah dibalik harus didiamkan sejenak hingga kondisinya benar-benar siap. "Setelah nenggale ini selesai, barulah besok atau lusa kita melakukan Lowong," kata Zumratul menutup pembicaraan.
Dalam bahasa Lombok, Lowong adalah istilah untuk tahap menanam bibit padi ke dalam lumpur sawah yang sudah diolah. Tahapan demi tahapan yang dilakukan petani di Dusun Karang Jangkong ini mencerminkan kegigihan masyarakat Lombok dalam menjaga ketahanan pangan melalui kearifan lokal dan adaptasi teknologi.
Fokus Kata Kunci SEO: Nenggale Lombok, Petani Desa Sintung, Pertanian Lombok Tengah, Biaya Bajak Sawah Traktor, Tradisi Sasak, Lowong Padi.