LOMBOK TENGAH – Sektor pertanian di Pulau Lombok tidak hanya sekadar mata pencaharian, tetapi juga sebuah rangkaian tradisi yang sarat akan kearifan lokal. Salah satu tahapan krusial dalam siklus tanam padi yang masih terjaga kelestariannya adalah proses "Embot Bineq" atau penyemaian dan pencabutan bibit padi sebelum masa tanam tiba.
Aktivitas ini terpantau di hamparan persawahan Dusun Karang Jangkong, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Di bawah langit yang teduh, para petani tampak telaten menyiapkan cikal bakal pangan yang akan menghijaukan lahan mereka beberapa bulan ke depan.
Muahidin (27), seorang petani muda asal Karang Jangkong, menjelaskan bahwa keberhasilan panen sangat ditentukan oleh kualitas awal bibit atau yang dalam bahasa Sasak disebut "Bineq". Menurutnya, proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan.
"Namanya Embot Bineq dalam bahasa Lombok, atau semai bibit. Bibit yang digunakan harus dipilih dari varietas yang paling bagus. Pertama, bineq berkualitas dipilih dulu untuk disemai di area khusus," ujar Muahidin saat ditemui di sawah dekat kediamannya, Kamis (2/4/2026).
Setelah melalui masa persemaian selama kurang lebih 20 hari, barulah bibit tersebut masuk ke tahap embot atau dicabut untuk dipindahkan ke lahan utama. Menariknya, tradisi di Lombok mengharuskan lahan utama diolah atau "Tenggala" (dibajak) sesaat setelah proses embot bineq selesai agar kondisi tanah berada dalam tingkat kelembapan yang ideal untuk penanaman.
Proses Embot Bineq ini biasanya melibatkan kerja sama antarwarga. Muahidin menyebutkan bahwa untuk pengerjaan di lahannya, ia melibatkan tiga warga sekitar. Setelah bibit dicabut, tahapan selanjutnya adalah "Lowong" atau proses menanam bibit ke lumpur sawah secara manual.
"Setelah embot bineq, langsung kita tanam atau bahasa Lomboknya Lowong. Biasanya untuk proses lowong ini dikerjakan oleh rombongan, misalnya 7 orang," tambahnya.
Terkait biaya produksi, Muahidin merincikan estimasi upah buruh tani yang berlaku di wilayah karang jangkong kecamatan Pringgarata saat ini:
- Upah Tenggala (Bajak Sawah): Rp18.000 per are (tergantung total luas lahan).
- Upah Lowong (Tanam): Rp35.000 per orang (ditambah fasilitas kopi).
- Biaya Konsumsi (Makan): Rp30.000 per orang.
Meskipun biaya pertanian terus mengalami penyesuaian, semangat gotong royong tetap menjadi mesin utama penggerak pertanian di Desa Sintung. Salah satu faktor pendukung keberhasilan tanam tahun ini adalah ketersediaan air yang melimpah. Muahidin mengaku bersyukur karena irigasi di wilayahnya tergolong lancar, sehingga proses lowong tidak terkendala kekeringan.
Di balik kerja keras berendam di lumpur, terselip kehangatan sosial antarpetani. Suasana akrab seringkali tercipta di tengah sawah, menjadi obat lelah bagi para pahlawan pangan ini.
"Kondisi air untuk kita lowong ini alhamdulillah lancar. Pada saat proses menanam, kadang orang-orang bekerja sambil tertawa, bercerita, dan bercanda. Itu yang membuat pekerjaan berat jadi terasa ringan," pungkas Muahidin.
Melalui tradisi Embot Bineq dan Lowong yang terus dijaga oleh generasi muda seperti Muahidin, ketahanan pangan di tingkat desa diharapkan tetap kokoh, sekaligus menjaga identitas budaya agraris masyarakat Lombok di tengah arus modernisasi.