24 April 2026 | Suara Dalam Berita

Inovasi Desa Kalijaga Timur: Makam Kuno Jadi Wisata Religi, Eks Tambang Disulap Kolam Syariah

Inovasi Desa Kalijaga Timur: Makam Kuno Jadi Wisata Religi, Eks Tambang Disulap Kolam Syariah
Foto : Salah satu nisan makam kuno yang ada du kalijaga timur.

LOMBOK TIMUR – Pemerintah Desa Kalijaga Timur tengah menyiapkan sebuah lompatan besar dalam menata masa depan wilayahnya. Melalui penemuan situs makam kuno abad ke-17 yang kini resmi menjadi Cagar Budaya, Pemdes berencana mengintegrasikan area tersebut dengan kawasan bekas tambang untuk disulap menjadi destinasi wisata religi terpadu yang menjunjung tinggi nilai-nilai syariat.

Konsep ini dirancang tidak hanya untuk menyelamatkan bukti sejarah perjuangan Islam, tetapi juga memulihkan ekosistem lingkungan sekaligus menjadi mesin penggerak ekonomi baru bagi masyarakat.

Alur Wisata Sejarah dan Pemberdayaan UMKM
Penataan situs makam kuno abad ke-17 menjadi pusat dari rencana besar ini. Pemdes telah merancang alur kunjungan wisatawan agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar pemukiman.
"Rencananya, akses masuk ke makam nanti melalui sisi Utara dengan jembatan yang akan kita bangun. Sedangkan alur keluarnya akan kita arahkan melalui tengah gubuk di Erot Lauk," ujar Kepala Desa Kalijaga Timur, Hiswaton, Minggu (19/04/2026).

Penempatan alur keluar di tengah pemukiman warga ini bertujuan agar para pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pusat oleh-oleh khas Kalijaga Timur. 

"Jika alurnya tertata seperti itu, kami yakin mampu menghidupkan UMKM dan meningkatkan ekonomi warga secara signifikan melalui penjualan produk khas lokal," tegasnya.

Kolam Pemandian Religius di Lahan Eks Tambang
Melengkapi keberadaan makam bersejarah tersebut, Pemdes juga akan memanfaatkan lahan bekas tambang di area Dasan Re dan Lendang Karang. Di lokasi ini, akan dibangun fasilitas pemandian umum yang dirancang dengan konsep yang lebih religius.

"Di Dasan Re dan Lendang Karang itu ada eks tambang. Kami berencana membangun kolam pemandian yang lebih religius dengan memisahkan area antara perempuan dan ikhwan (laki-laki)," jelas Hiswaton.

Langkah ini sekaligus menjadi strategi jitu untuk menghentikan aktivitas pertambangan di wilayah tersebut secara permanen. "Dengan adanya program wisata ini, kita bisa menutup lokasi tambang dan menggantinya dengan pemanfaatan lahan yang lebih bermanfaat dan terjaga kesuciannya," tambahnya.

Sinergi Bersama Pakar dan Pemerintah Daerah
Proyek ambisius yang menyatukan pelestarian sejarah dan reklamasi lahan tambang ini tengah dimatangkan bersama Dr. Juju, akademisi dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok. Sinergi ini memastikan bahwa pengembangan kawasan tetap berada pada koridor profesionalisme pariwisata tanpa mengesampingkan marwah situs sejarah.

"InsyaAllah dalam waktu dekat kami akan selesaikan projeknya bersama Pak Doktor Juju. Setelah itu, akan segera kami teruskan ke Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) serta Dinas Pariwisata untuk langkah selanjutnya," pungkas Hiswaton.

Melalui integrasi makam kuno dan penataan lahan eks tambang, Desa Kalijaga Timur bersiap menjadi role model nasional dalam hal transformasi desa berbasis sejarah dan lingkungan yang religius.

Link berhasil disalin!