BREAKING NEWS
12 April 2026 Suara Dalam Berita

Dana Riset Menyusut, Jurnal Menunggu Lama: Ke Mana Arah Ekosistem Penelitian Kita?

Penulis Bahtiar I | Pengelola Jurnal | 10 April 2026 | 21 dibaca
Dana Riset Menyusut, Jurnal Menunggu Lama: Ke Mana Arah Ekosistem Penelitian Kita?
Foto : Ilustrasi seorang peneliti atau dosen di Indonesia yang sedang bekerja keras di laboratorium, mencerminkan dedikasi di tengah tantangan keterbatasan anggaran penelitian nasional dan tuntutan publikasi ilmiah. Gambar ini menggunakan gaya seni digital.

Di tengah tuntutan agar perguruan tinggi menghasilkan inovasi, publikasi ilmiah, dan solusi berbasis riset, realitas ekosistem penelitian di Indonesia justru menghadapi tantangan serius. Pada tahun 2026, anggaran penelitian nasional yang tersedia sekitar Rp1,7 triliun. Angka ini dinilai jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan riil riset yang terus meningkat setiap tahun.

Padahal jumlah dosen di Indonesia mencapai ratusan ribu orang yang memiliki kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya penelitian. Setiap tahun ribuan proposal penelitian diajukan melalui berbagai skema pendanaan. Namun keterbatasan anggaran membuat banyak ide, gagasan, dan proposal penelitian yang sebenarnya potensial akhirnya tidak mendapatkan pendanaan.

Kondisi ini menimbulkan dilema tersendiri. Di satu sisi, pemerintah mendorong peningkatan publikasi ilmiah dan inovasi. Di sisi lain, dukungan finansial yang tersedia belum mampu mengakomodasi antusiasme dan kebutuhan para peneliti. Akibatnya, banyak dosen yang harus mencari alternatif pendanaan mandiri atau bahkan menunda penelitian mereka.

Tidak sedikit pula penelitian yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjawab persoalan di masyarakat, mulai dari ekonomi lokal, teknologi tepat guna, hingga pengembangan sumber daya manusia, terpaksa berhenti pada tahap proposal.

Tantangan dalam Akreditasi Jurnal

Persoalan lain yang turut menjadi sorotan adalah proses akreditasi jurnal ilmiah di Indonesia. Saat ini, proses akreditasi jurnal dapat memakan waktu hingga sekitar satu tahun sejak pengajuan hingga keluarnya keputusan.

Bagi pengelola jurnal di perguruan tinggi, proses ini dinilai cukup panjang. Selain itu, sebagian pihak juga menyoroti kurangnya transparansi pada tahapan proses penilaian. Berbeda dengan sebelumnya, di mana perkembangan tahapan proses akreditasi dapat dipantau secara lebih terbuka melalui sistem yang terintegrasi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pengelola jurnal dapat memantau perkembangan status pengajuan secara bertahap melalui sistem yang terhubung antara platform pengajuan penelitian dan portal akreditasi jurnal. Informasi tahapan demi tahapan dapat terlihat dengan jelas sehingga pengelola jurnal mengetahui posisi proses yang sedang berjalan.

Namun belakangan ini, sebagian pengelola jurnal merasa informasi tahapan tersebut tidak lagi sejelas sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan sekaligus harapan agar sistem penilaian dapat kembali menghadirkan transparansi yang lebih baik.

Salah satu pengelola jurnal di Ninety Media Publisher mengungkapkan bahwa lamanya proses akreditasi sering kali membuat pengelola jurnal berada dalam ketidakpastian. “Proses akreditasi jurnal bisa memakan waktu hampir satu tahun sejak pengajuan hingga keputusan keluar. Bagi pengelola jurnal, kepastian waktu sangat penting karena berkaitan dengan reputasi jurnal, kepercayaan penulis, serta keberlanjutan pengelolaan jurnal itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga berharap sistem akreditasi jurnal ke depan dapat menghadirkan transparansi tahapan proses yang lebih jelas. Dengan demikian, pengelola jurnal dapat mengetahui posisi proses penilaian yang sedang berlangsung serta mempersiapkan perbaikan apabila ada kekurangan dalam proses penilaian tersebut.

Menjaga Semangat Riset

Ekosistem penelitian yang sehat tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, tetapi juga dukungan sistem yang kuat, transparan, dan berkelanjutan. Penelitian adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa, bukan sekadar kewajiban administratif bagi dosen.

Jika keterbatasan anggaran terus menjadi kendala utama, maka perlu ada upaya inovatif dalam memperluas sumber pendanaan riset, baik melalui kolaborasi industri, pemerintah daerah, maupun lembaga internasional.

Di sisi lain, perbaikan tata kelola sistem, termasuk transparansi proses pendanaan penelitian dan akreditasi jurnal, menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan para akademisi.

Para dosen di berbagai perguruan tinggi sebenarnya tidak kekurangan ide dan gagasan. Yang mereka butuhkan adalah ruang, dukungan, dan kesempatan agar gagasan tersebut dapat berkembang menjadi penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, kualitas penelitian suatu bangsa sangat ditentukan oleh seberapa besar komitmen negara dalam mendukung para penelitinya. Tanpa dukungan yang memadai, banyak gagasan berharga hanya akan berhenti di atas kertas.

Opini Terkait

Link berhasil disalin!